Ibadah selanjutnya yakni sa’I, salah satu rukun haji dan juga umrah, yakni berjalan kaki9 dan berlari-lari kecil secara bolak balik sebanyak 7 kali dari bukit shafa ke bukit marwah.kedua puncak bukit tersebut berjarak sekitar 700 meter.saat melintasi bathnul waadi, kawasan yang di tandai dengan lampu neon berwarna hijau, para jama’ah pria di sunnahkan berlari-lari kecil sedangkan jama’ah wanita berjaolan cepat. Ibadah sa’I boleh di lakukan dalam keadaan tidak berwudlu, dan juga oleh wanita yang edang haid dan nifas.
Setelah melakukan sa’I, saya melakukan ibadah penutup yakni tahallul, yang memiliki makna ‘ menjadi boleh’ atau ‘ di perbolehkan’. Jadi, tahallul adalah di perrbolehkan atau di bebaskannya seseorang dari larangan ihram. Pembebasan tersebut di tandai dengan mencukur atau memotong sedikitnya 3 helai rambut.
Setelah melakukan ibadah umroh, saya melihat-lihat Maqam Ibrahim yang masih di areal ka’bah. Ini adalah tempat nabi Ibrohim berada saat membangun ka’bah dibantu oleh nabi Ismail. Di tempat ini pula jama’ah di sunnahkan salat dua raka’atdan berdo’a selesai melakukan thawaf. Maqam ibrohim bukanlah kuburan nabi ibrohim, karena beliau di makamkan di hebron,Palestina
Saya sempat ke mata air Zam Zam, tetapi saat itu sumur yang di temukan oleh siti Hajar saat ismail kehausan itu tengah di tutup guna menjaga kualitas air Zam Zam itu sendiri. Dulu mata air ini sempat kering bahkan di lupakan keberadaannya. Akan tetapi Abdul Muthalib, kakek Rasu lullah, berhasil menemukannyya kembali
Sumber air Zam Zam tersebut kini di bangun permanen di bawah lantai tempat thawaf. Pemerintah Saudi telah menyalurkannya dalam keran-keran dengan es pendingin, sehingga jamaah tak perlu repot-repot mengambil air zamzam guna dibawa pulang. Tiap- tiap penyelenggara haji dan umroh telah menyiapkannya dalam jerigen sebagai oleh-oleh.
Pagi hari, selepas salat shubuh di Masjidil Haram, kami melakukan safri kota mekkah. Yang pertama saya kunjungi adlah Gua Tsur atau Jbal Tsur, yang terletak di atas bukit bebatuan di selatan kota mekkah. Goa tersebut merupakan tempat persembunyian Rosulullah dan Abu Bakar selama 3 hari, ketika merea di kejar- kejar oleh kafir Quraisy saat hendak hijrah ke madinah.
Kami melanjutkan ke Gua Hira atau Jabal Nur, sebuah bukit batu yang tinggi dan terrjal, sekitar 6 kilometer di luar kota mekkah. Di puncak bukit ini, tepatnya di lereng yang yang menghadap ke lembah Mekkah.di puncak bukit ini, tepatnya di lereng yang menghadap kelembah mekkah, terdapat sebuah gua. Di tempat yang tersembunyi dan sepi inilah Rosulullah memilih untuk menyepi, dan disini pula beliau menerima wahyu pertamanya, yakni surat Al ‘Alaq 1-5. Pada saat itu beliau berusia 40 tahun.
Kami kembali melakukan perjalanan menuju Jabal Rahmah, sebuah bukit yang tidak begitu tinggi dan di puncaknya terdapat sebuah batu kotak yang tingginya kurang lebih 5 meter berwarna putih. Dindingnya sangat kusam serta banyak bertuliskan nama-nama orang degan pasangannya. Jabal Rahmah, atau banyak orang menyebutnya Gunung Kasih Sayang, konon merupakan gunung tempat pertemuan kembali antara Nabi Adam dan Siti Hawa di dunia setelah mereka di turunkan dari surga.
Ada kepercayaan di kalangan jamaah haji maupun umroh, baahwa Jabal Rahmah tempat yang manjur untuk berdoa agar entengkan jodohnya. Banyak jamaah haji dan umroh naik ke puncak gunung itu supaya lebih mantap berdoanya. Kebanyakan mereka adalah para orangtua yang mendoakan anaknya, atau para muda- mudi, janda- janda serta duda- duda yang ingin mendapatkan pasangan hidup lagi. Selain berdoa, mereka juga menorehkann seperti alat tulis seperti pulpen, pensi atau spidol sekadar menulis namanya dengan nama pasngannya.
Selanjutnya kami menuju Padang Arafah, sekitar 12 km di luar mekkah. Ini merupakan tempat wukuf yang merupakan tiang utama ibadah haji. Di Arafah pula Rosulullah menyampaikan pesan terakhirnya sebelum wafat dalam khutbah ringkas yang sangat menggugah.
Kami menuju masjid Namirah yang merupakan tempat peristirahatan Rosulullah setelah beliau dari mina menuju padang Arafah.. kami lalu ke Muzdalifah, yang berada antara arafah dan mina. Ini tempat Rosul bermalam, dan saat itu pula beliau memungut batu kerikil yang di pakainya untuk melempar jumrah di mina.
Kami kembali menuju miqat di masjid jironah guna mengambil umroh kedua. Masjid jironah merupakan miqat yang berjarak kurang lebih 25 km dari kota mekkah. Tepat jam 12 siang kami telah berihram kembali, lalu kami pun melaksanakan umroh kedua yang tidak berbeda jauh dengan umroh yang kami lakukan pertam kali. Yang membedakan hanya waktunya saja. Kalau yang pertama malam hari, kini siang hari.
Yang menjadi kendala umroh siang hari adalah udara yang panas, yang sangat mempengaruhi daya tahan tubuh. Kita harus sudah siap sebelumnya dengan makan banyak buah-buahan yang mengandung air, minum air putih, dan menjaga stamina tubuhh dengan rutin minum vitamin C. jangan lupa, sebelum melakukan niat berihram, kita olesi dahulu tubuh dengan lation sertamenggunakan lip gloss agar kulit serta bibir kita tidak pecah-pecah.
Setelah kami melakukan umroh kedua, sore hari setelah salat maghrib di Masjidil Haram, kami pun melakukan petualangan belanja dan kuliner. Kami membeli minuman teh susu murni di sebuah warung yang tak jauh dari haotel, lalu menyebrang jalan menuju sebuah toko emas. Took rafli jeweler tersebut tidak terlalu besar akan tetapi kualitas emas yang di jualnya sangat baik.
Di dekat terminal yang tak jauh dari hotel, terdapat rumah makan yang menyajikan menu Indonesia yakni Bakso Mang Oedin. Selain itu juga ada rumah makan padang, hingga warung tegal. Namun kalau ingin membeli produk kecantikan serta obat- obatan sebaiknya belilah di apotik. Ada sebuah apotik yang bagus, di sebelah kiri pintu Hotel Hilton Tower 3. Hotel Hilton yang kami tempati ini mempekerjakan sekitar 100 orang Indonesia. Walhasil, kami tidak susah dalam berkomunikasi.
Di hari kedelapan, kami melakukan tawaf wada’ ( tawaf akhir atau perpisahan), yang tak perlu memakai pakaian ihram dan tak perlu pergi miqat. Selepas atwaf wada kami chek out dari Hotel Hilton dan menuju Hotel Marriott di Jeddah. Dalam perjalanan itu kami sempatr mengunjungi Masjid Apung yang terletak di bibir Laut Merah. Suasana pantai yang indah membuat kami berlama-lama di situ. Cukup banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya, dari pedagang kecil hingga bakso. Namun mereka cukup tertib. Banyak di antara mereka bberjalan menggunakan mobil pribadi.
Kamipun melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian kami mennjumpai air mancur yang terdapat di tengah laut Merah. Orang Indonesia menyebutnya Bidadari Menari. Tak jauh dari situ ada Masjid Kisos, yaitu masjid yang digunakan untuk menghikum para pelaku kejahatan.
Setelah salat maghrib berjamaah di Hotel Marriot Jeddah, kami Menuju Balad, sebuah pasar Internasional yang menyediakan berbagai manyediakan berbagai macam pernak pernik serta oleh-oleh. Toko yang sangat murahdi sini adalah “ TOKO ALI MURAH”. Di sini, kita dapat menawar meski barang tersebut masih di beri label harga. Took ini juga menjual berbagai parfum, pernak pernik perlengkapan salat, pakaian, produk kecantikan, hingga makanan.
Tepat pukul 10 esok paginya, kami menuju bandara King Abdu Aziz. Pukul 12, kami pun kembali ke Jakarta menuju Booeing 747-400.


